Blog Toko
Temukan event, kabar terbaru, dan promosi terbaru di sini!
May 11, 2021
Blog #9 – Merekam Degup Kehidupan Sehari-hari Bagian 3

Merekam kehidupan yang tampak rutin menjadi foto-foto yang menarik memberikan tantangan tersendiri. Untuk menangkanya, kita harus bisa ikut merasakan dan meresapi apa yang sedang terjadi di sekitar, memahami makna dari apa yang mereka lakukan dan menciptakan konsep visual yang kuat untuk menangkapnya tanpa mengganggu kegiatan mereka, seperti yang bisa dilihat dari foto-foto berikut: Foto 1: Di siang yang terik saya melihat nenek saya sedang menikmati hiburan sederhana, mencari dan mencabut uban oleh keponakannya. Di sini saya coba menangkap kehidupan desa yang sederhana, damai dan bahagia tanpa beban kehidupan (Olumpus OM1, Zuiko 50mm/1.8, Kodak Tri X). 2: Saya berhasil menangkap seorang tukang becak yang mengekspresikan kepuasan setelah makan siang. Saya membidik dan menunggu sampai salah satunya membuat gestur yang dengan gamblang mengatakan, “Puassss” Foto ini pernah dimuat sebagai “Foto Minggu Ini” di Kompas Minggu tahun 1978, dan yang lebih menyenangkan saya berhasil mendapatkan kembali cetakan foto B/W yang yang saya cetak sendiri dari teman baik saya, Arbain Rambey  (Olympus OM1, Zuiko 100mm/2.8, Kodak Tri X). 3: Saya menemukan tukang sepatu ini di trotoar Jl. Malioboro, dan tertarik dengan keriusannya dalam menekuni profesinya. Dengan diam-diam saya mengabadikan kegiatannya tanpa dia sadari (Olympus OM1, Zuiko 50mm/1.8, Kodak Tri X). 4: Tukang cukur pinggir jalan yang berada di belakang Jl. Malioboro, Yogyakarta, saya temukan sedang asyik potong rambut sambil ngobrol santai, mereka bahkan tidak sadar kalau saya sedang memotretnya (Olympus OM1, Zuiko 100mm/2.8, Kodak Tri X). 5. Tukang jahit ini saya temukan ketika berjalan-jalan memotret kehidupan masyarakat di perkampungan di kawasan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta (Leica M6, Summilux-M 50mm/1.4, Fuji Neopan 400). 6. Jalan-jalan di dalam Pasar Bringharjo, Yogyakarta sangat menarik dan penuh kegiatan menarik. Saya menemukan tukang emas tradisional ini sedang serius bekerja dengan peralatan sederhana serba tradisional. Saya sangat tertarik dengan ketekunan dan keahliannya membuat perhiasan emas (Leica M6, Summilux-M 50mm/1.4, Fuji Neopan 400).

Produk yang Diulas :
Buku "Orang Biasa"
Apr 27, 2021
Blog #9 – Merekam Degup Kehidupan Sehari-hari (Bagian 2)

Untuk hasil foto dokumentasi yang wajar alami, kita harus bisa memotret tanpa mengundang perhatian berlebihan, membiarkan subyek melakukan apa yang sedang dikerjakan, cari sudut pemotretan yang terbaik agar latar belakangnya dan pencahayaan memperkuat foto, dan menjaga agar subyek foto kita juga tidak merasa terganggu.

Pendekatan yang ramah dengan percakapan kecil yang berhubungan dengan kehidupan mereka sangat membantu mencairkan suasana dan menciptakan suasana yang akrab. Pendekatan ini juga membuat kita lebih tahu tentang kehidupan subyek foto kita dan merasakan apa yang mereka lakoni setiap hari. Iterpretasi emosi yang muncul akan membantu membentuk konsep visual dan imaji kita, bagaimana kita menciptakan komposisi dan menempatkan subyek utama untuk menangkap apa yang kita lihat dan rasakan.

Memotret tanpa mengangkat kamera ke wajah, hanya mengintip dari layar LCD, kadang sangat membantu mendapatkan foto yang lebih wajar, terutama kalau subyek foto merasa sangat tegang melihat kehadiran kamera. Dengan kamera mirrorless yang dilengkapi lensa lensa zoom standard, 16 – 50mm (24 – 75mm dalam format 135), kita sudah bisa melakukan foto dokumentasi kehidupan sehari-hari dengan leluasa dan nyaman. Dibantu dengan kemampuan ISO tinggi, lengkaplah sudah kemudahan kita dalam mendokumentasikan apa yang terjadi di sekitar kita.

Cobalah, dan nikmati hasilnya yang hangat dan kental dengan kesan kedekatan seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang kita dokumentasikan.



Merekam kegiatan anak-anak yang terkadang susah ditebak sangat mengasyikan dan menantang. Pendekatan terbaik adalah membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka lakukan. Kita hanya memperhatikan, menambah semangat, mencari sudut dan moment menjepret rana yang pas untuk merekamnya. (Kika dan atas-bawah): 1. Seorang anak yang mandi di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, memamerkan rambut punk baru nya dengan senyum merekah (DSLR dengan 70-200mm). 2. Adik membantu kakak mandi di sore hari, Tegalcangkring, Jembrana, Bali (Olympus OM1, Zuiko 50mm, Kodak Tri X). 3. Mereka bergembira pulang naik gerobak yang didorong ayahnya di Brebes, Jawa Tengah. Foto ini pernah dijadikan sampul amplop dari Lab Foto terkenal di Kemang. Dan saya harus ke Brebes mencari anak-anak dan ortunya untuk diberikan honor model (Leica M6, Elmarit-M 90mm/2.8, Fuji Neopan 400). 4. Seorang gadis kecil membantu neneknya menumbuk padi di Kampung Naga, Tasik Malaya, Jawa Barat. Saya memperhatikan dia dari jauh tanpa menarik perhatiannya. Ketika akhirnya dia melihat saya, dia berhenti dan melihat ke rah saya, inilah saatnya saya menjepret (Leica M6, Summilux-M 50mm/1.4, Kodak Tri X). 5. Saya mendengar teriakan kegembiraan mereka jauh sebelum mereka tampak. Saya bersiap, dan segera memotret ketika mereka muncul di jalan yang meliak-liuk di Batu Tumonga, Tanatoraja, Sulawesi Selatan (Mamiya 645, Mamiya Sekor 105-210mm, Fujichrome Provia 100). 6. Ada banyak anak-anak minta penumpang ferry di Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur untuk melempar koin ke laut untuk mereka tangkap dengan terjun dan menyelam. Saya posisikan diri di bawah lokasi mereka, begitu terjun, saya jepret satu frame dan berhasil menangkapnya pada moment seolah dia sedang terbang.

Produk yang Diulas :
Buku "Orang Biasa"
Apr 21, 2021
Blog #9 – Merekam Degup Kehidupan Sehari-hari

Kegiatan rutin masyarakat di sekitar kita sering terlewat dari perhatian kita. Sebenarnya tidak ada yang lebih menarik dari mendokumentasikan degup kehidupan sehari-hari, atau masyarakat yang kita temui di sepanjang perjalanan kita. Untuk berhasil dalam foto dokumentasi merekam kehidupan sehari-hari, kita perlu memiliki sikap positif dengan rasa keingintahuan yang tinggi, kepedulian yang jujur dan kesiapan peralatan yang tepat serta teknik yang jitu. Untuk hasil yang wajar alami, kita harus bisa memotret tanpa mengundang perhatian berlebihan, dan menjaga agar subyek foto kita juga tidak merasa terganggu.

Saya selalu mendekati subyek foto sebelum memotret dan memberikan salam, “Selamat pagi, apa kabar bapak/ibu?” Terus disambung dengan percakapan kecil yang berhubungan dengan kehidupan mereka. Kalau pedagang, “Sudah banyak yang laku? Berapa penghasilan sehari? Apakah cukup untuk hidup?” dll.nya. Kalau pekerja, nelayan, petani, dll. “Berapa luas garapannya? Berapa hasilnya? Bagaimana tangkapan hari ini? Boleh lihat? Di mana nanti dijual, dan berapa nilainya?” dll.nya. Di samping mencairkan suasana, percapakan ini juga membuat kita lebih tahu tentang subyek foto kita, hingga bisa mendapatkan gambaran yang lebih kongkrit tentang mereka. Gambaran yang menyentuh rasa dan emosi kita akan membentuk konsep visual dan imaji kita, bagaimana kita akan memotret, menciptakan komposisi dan menempatkan subyek utama untuk menangkap apa yang kita rasakan dan lihat. Interpretasi kita bisa beragam: positif, simpatik, ramah, peduli, dll.nya, atau sebaliknya, potret sebuah kehidupan yang keras, penuh perjuangan dan tantangan.

Untuk foto dokumentasi, saya selalu memakai lensa sudut lebar, 24mm – 35mm dan lensa normal 50mm. Dengan lensa sudut lebar, saya menyetel fokus secara manual dengan settting hyperfocal untuk mendapatkan ruang tajam dari sekitar 50 cm – 200 cm (menyetel jarak fokus dengan bukaan diafragma f.8 yang memberikan depth of field dan kecepatan rana yang mencukupi). Dengan eksposur manual dan titik focus yang sudah ditentukan sebelumnya, kita tidak perlu terus-terusan menyetel fokus dan eksposur, cukup arahkan kamera dan jepret, jepret, jepret. Dengan teknik ini, kita bisa bekerja jauh lebih cepat dari memakai kamera otofokus.

Cobalah, dan nikmati hasilnya yang hangat dan kental dengan kesan kedekatan seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang kita dokumentasikan.

Portfolio foto ibu dan anak ini saya rekam di berbagai lokasi di Jawa dan Bali (kika atas-bawah): 1. Pengamen sambil menyusui anaknya, Menara Foto, Jl. Perwakilan, Yogyakarta. Satu kejadian yang begitu cepat terjadi. Walaupun kamera saya sudah distel sebelumnya, saya hanya bisa dapat satu jepretan saja (Olympus OM1, Zuiko 50mm, Kodak TriX). Foto ini pernah dimuat sebagai Foto Minggu ini di Kompas akhir 1970 an. 2. Ibu dan anak di jalan desa yang sepi di Pakem, Kaliurang. Saya sedang memotret ibu-ibu yang sedang tanam padi di sawah. Ketika naik ke jalan, saya ketemu ibu ini, saya sapa dan ngobrol sedikit, terus minta ijin foto 1 jepretan saja (Olympus OM1, Zuiko 100mm, Kodak TriX), 3. Saudara saya lagi berkunjung dengan anaknya di rumah tua saya di Jembrana Bali, lagi asyik ngobrol, saya ambil satu portret untuk mengabadikan kegembiraan mereka (Olympus OM1, Sygma 18mm, Kodak TriX), 4. Seorang ibu dan putrinya yang lagi manja di Kampung Naga, Tasik Malaya, Jawa Barat. Sambil bercanda dengan si anak, saya ambil kesempatan mengambil 1 foto (Leica M6, Summilux-M 50mm/1.4, Fuji Neopan 400), 5. Saya menemukan anak gadis kecil yang sedang momong adiknya di depan toko yang lagi tutup. Saya sapa dia dan ngobrol sedikit sambil mengambil fotonya tanpa mengintip dari viewfinder (Olympus OM1, Zuiko 28mm, Kodak TriX), 6. Ketika mengantar tamu, teman dari USA, ke Karangasem, kami  berhenti untuk melihat tambak garam rakyat dan ketemu ibu yang lagi gembira menggendong anaknya. Saya berusaha menangkap kegembiraan ini (Olympus OM1, Zuiko 50mm/1.4, Kodak TriX).


Apr 15, 2021
Blog #8: Menangkap Keajaiban Alam

Fenomena alam yang spektakuler sering muncul tanpa kita duga, dan hanya bertahan sebentar atau selama beberapa menit. Karena itu kita harus selalu mengamati keadaan alam di sekitar kita untuk melihatnya. Kita juga harus bisa mengambil keputusan yang cepat, secara konsep dan teknis untuk merekamnya dengan mengesankan. Bagaimana menyiapkan peralatan, memilih lensa, menentukan eksposur (bukaan diafragma dan kecepatan rana), mematangkan konsep visualnya untuk membuat komposisi yang bisa memperkuat tampilan fenomena alam yang sudah spektakuler ini. Berikut adalah beberapa foto yang berhasil menangkap fenomena alam yang mempesona.

 

Fantastic Light Show over Borobudur Temple, Central Java

Saya mendapatkan seri foto Borobudur yang tidak mungkin bisa diulang ini sekitar awal 1980 an. Saya sedang keliling meliput Candi Borobudur di sore yang terik dan panas. Di bawah bayangan candi, saya membeli sebotol air minum dan langsung tengadah meneguknya. Alangkah kagetnya saya di atas siluet Borobudur terjadi permainan cahaya dan gumpalan awan yang sangat menakjubkan. Saya langsung berhenti minum, dan mulai menyetel eksposur dan membuat komposisi dengan lensa sudut super lebar Canon FD 20mm/2.8 yang terpasang di Canon AE1 dan film slide Kodak Ektachrome 100. Saya selalu memotret manual berpegang pada Aturan Matahari f.16. Dengan cepat saya atur 1/60 dan f.11, 2 stop di bawah eksposur matahari benderang. Kebetulan saya baru pasang film, dari awal motret sampai film habis (36 frame) dengan mengokang manual (Canon AE1 saya tidak dilengkapi winder) hanya dalam hitungan menit awan yang bergerak cepat itu sudah menutup seluruh permukaan langit di sekitar puncak Borobudur. Tapi saya beruntung telah berhasil mendapatkan seri foto yang spektakuler dan tidak mungkin bisa diulang lagi.


Apr 10, 2021
Blog #8: Merekam Drama di Langit

Ketika berburu foto, kita biasa mencari keindahan alam dan bumi sebatas ke arah horizon. Kita sering lupa untuk sesekali melihat ke atas untuk melihat drama di langit yang terkadang muncul secara misterius. Langit biru tropis sering menjadi kanvas lukisan alam dramatis yang tercipta dari permainan gumpalan awan yang terus berubah bentuk dan bergerak bersinergi dengan binar cahaya mentari yang menggoda imajinasi kita ke alam fantasi yang mempesona.

 

Untuk menangkap drama di langit, kita harus bisa bekerja dengan cepat, merubah imajinasi menjadi komposisi, merekam dengan menerapkan teknik fotografi yang tepat untuk memperkuat greget drama permainan awan dan cahaya yang sedang berlangsung di langit. Untuk itu, kita harus selalu bersiap diri dengan system peralatan yang pas, lensa zoom sudut lebar, menentukan eksposur dengan program A (aperture priority) agar bisa memilih bukaan diafragma yang dibutuhkan, filter polarizing, bila perlu memberikan kompensasi eksposur (biasanya minus 1 stop) untuk efek yang lebih dramatis, dan menciptakan variasi komposisi untuk membuat fenomena alam yang sudah spektakuler ini semakin spektakuler.


Hamparan Awan Perak dengan Gunung Arjuna, Bromo, Jawa Timur

Waktu memotret pemandangan ini, saya baru pertama kali naik ke Gunung Penanjakan di sore hari, biasanya sebelum fajar untuk menyaksikan matahari terbit. Ketika tiba di sana, saya kaget sekali disambut hamparan panorama gumpalan-gumpalan awan perak yang tampak begitu fantastis, bahkan saya berpikir mungkin inilah keindahan surgawi yang sebenarnya. Saya langsung lari ke atas untuk mencari posisi untuk mendapatkan sudut pemotretan yang terbaik. Tiba sambil ngos-ngosan di lokasi yang lebih tinggi, ternyata tidak ada celah di antara pepohonan untuk menangkap panorama yang luas ini. Terpaksa turun lagi untuk menemukan celah yang cukup lebar untuk menciptakan komposisi yang mampu menangkap pemandangan yang memukau ini secara utuh. Saya langsung menghabiskan 1 roll film slide medium format, 12 frame, dengan Hasselblad 503 CXi, Tele Sonnar CF 250mm/5.6, Fujichrome Provia 100D, eksposur manual 1/250, f.16. Saya ada sedikit waktu untuk menikmati panorama fantastis ini ketika mengganti film. Saya berkhayal alangkah bahagianya hati kalau bisa berkelana di sana, terbang melayang dan melompat dari awan ke awan … tapi khayalan saya harus diputus singkat karena saya harus melanjutkan memotret lagi sebelum gumpalan-gumpalan awan perak ini segera sirna tanpa bekas.


Foto Mahkota Awan dan Jembatan Langit saya rekam tanpa ada perencanaan untuk mencari drama di langit. Saya hanya kebetulan ada di sana dan menemukan keindahan alam yang mempesona ini untuk diabadikan. Drama di langit ini hanya bertahan beberapa menit saja. Dan saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk merekamnya.

Mahkota Awan, Hasselblad 503 CXi, Tele Sonnar CF 350mm/5.6, Mutar 2X, eksposur manual 1/30, f.11, Fujichrome Provia 100D

Jembatan Langit, Hasselblad 503 CXi, Distagon CF 40mm/4, Polarising filter, eksposur manual 1/30, f.16, Fujichrome Provia 100D



Apr 06, 2021
Blog #7 Bagian 4: Belajar Melihat dari Mata Hati

Ketika menyaksikan keajaiban alam yang menakjubkan, sering kali kita lupa bagaimana merekamnya menjadi karya fotografi yang menarik. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, kunci sukses merekam foto yang mampu menangkap kebesarannya adalah dengan mendengarkan bisikan hati dan merasakan gejolak emosi yang muncul untuk membuat interpretasi visual yang sesuai dengan apa yang dilihat dan dirasakan dari keajaiban alam ini. Saya menciptakan banyak variasi komposisi dari panorama ini, tapi dalam foto Seri 2 ini saya pilih 3 foto untuk menunjukkan bagaimana saya merekam keindahan alam ini sesuai dengan apa yang saya kagumi dan rasakan ketika tiba di Pantai Pintu Kota, Ambon, Maluku Selatan.

 

Turun dari mobil, saya disambut hamparan bongkahan bebatuan besar yang memenuhi hampir seluruh pantai di sini. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan di pagi yang sejuk ini. Di kejauhan saya lihat cahaya mentari berbinar dari sebuah lubang besar di kaki bukit batu di pinggir pantai yang menjadikan panorama ini tampil dramatis. Pertama, saya merekam keseluruhan panorama dengan lensa sudut lebar dengan memanfaatkan bongkahan batu besar sebagai latar depan dan cahaya mentari di lubang bukit sebagai fokus utama (Foto 1). Kemudian saya lebih mendekat, dengan berganti ke lensa tele sedang, untuk memberikan detil pada lubang batu dengan masih menunjukan suasana sekitar (Foto 2). Dari lubang batu saya lihat ada banyak perahu nelayan yang lewat, jadi saya langsung manfaatkan untuk memberikan skala dan ruh kehidupan pada pemandangan alam yang spektakuler ini (Foto 3).


Hasselblad 503 CX1, lensa sudut lebar Distagon CF 40mm/4, Macro Planar CF 120mm/4 dan Tele Sonnar CF 250mm/5.6, Fujichrom Velvia dan Provia, 1/30, f.16 untuk lensa sudut lebar, dan 1/125, f.8 untuk lensa tele.

Produk yang Diulas :
Buku Enchanted Moments
Apr 01, 2021
Blog #7 Bagian 3: Belajar Melihat dari Mata Hati

Bila kita bertemu sebuah pemandangan yang menarik hati, berhentilah sejenak dan bertanya kenapa dan apa yang membuatnya tampak menarik. Mungkin simbolisme yang direpresentasikan oleh subyek foto, dan kondisi khas yang mengetuk hati kita, atau fenomena alam yang tampak di luar yang biasa kita lihat seperti yang akan diilustrasikan oleh 2 seri foto berikut ini, Foto Seri 1 dan 2. 

Foto seri 1A: Penjual Keranjang Keliling, Magelang, Jawa Tengah, dan Foto 1B, Petani Bawang, Brebes, Jawa Tengah. Dalam 2 foto ini saya menemukan subyek foto yang menorehkan kesan yang sangat dalam di hati saya, tentang perjuangan hidup yang berat dalam mencari nafkah tapi tetap tegar dan menjalankan dengan sepenuh hati. Berpijak pada emosi yang saya rasakan, saya dengan cepat membuat visualisasi untuk menciptakan sebuah foto yang akan mampu mengekpresikan  apa yang saya lihat dan rasakan. Untuk foto pedagang keranjang, saya ingin menangkap sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan penuh mara bahaya di tengah ramainya lalu lintas di jalan raya Magelang - Yogyakarta. Saya memakai kamera Medium Format manual Zensa Bronica SQi dan lensa Zensanon tele 500mm. Saya dengan cepat menyalip dia, berhenti sekitar 200 m di depannya dan mulai menyetel eksposur dengan film slide Fujichrome Provia 100D, kecepatan rana 1/500, diafragma f.8, dan menentukan titik fokus untuk memakai teknik trap focus, menjepret ketika subyek masuk ke bidang fokus. Tanpa tripod, saya membidik sambil jongkok, ketika dia masuk fokus, saya langsung jepret, dan hanya dapat 1 frame saya. Saya mengulang berhenti 2 kali untuk mengambil 2 frame foto saja. Dia selalu tersenyum ketika melewati saya, demikian juga saya. Salam hormat pak, semoga semua terjual dan selamat sampai di rumah!

 

Foto seri 1B, petani bawang dengan baju merah di tengah hamparan ladang bawang hijau segar menarik perhatian saya ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Saya berhenti dan menyebrang jalan untuk memotret dia dan beberapa temannya bekerja. Saya membuat kreasi visual dengan memanfaatkan alur garis ladang bawang dan menunggu petani ini dan teman-temannya untuk masuk di komposisi yang ingin saya ciptakan. Salah satu yang saya paling suka adalah foto ini ketika dia sendiri bekerja dengan serius. Semuanya berjalan sesuai irama kerja mereka, saya hanya menunggu saat yang tepat, pada posisi yang tepat untuk menjepretnya dengan kamera manual medium format Hasselblad 503 CXi dengan Tele Sonnar CF 250mm/5.6 dengan Fujichrome Provia 100D, 1/125, f.5.6

 

Tunggu di blog berikut berikut Foto seri 2 A, B dan C

Produk yang Diulas :
Buku Enchanted Moments
Mar 28, 2021
Blog #6 Bagian 2: Belajar Melihat dari Mata Hati

Bila kita selalu mendengarkan kata hati kita, apa yang dirasakan pada saat berada di lokasi, dan membangun keselarasan dengan apa yang dilihat melalui mata hati, kita pasti akan bisa membuat interpretasi kreatif pribadi yang khas dalam menciptakan foto-foto yang mampu menangkap apa yang dilihat dan rasakan dalam imaji kita.

 

Pada foto Rembulan Fajar di atas Bromo saya mau menangkap keheningan yang terasa merasuk di hati saya yang membawa suasana kedamaian yang sulit untuk digambarkan dalam kata-kata. Saya memilih lensa sudut lebar untuk menangkap kesunyian panorama Bromo yang dingin di kala fajar. Hasselblad 503CXi, Distagon CF 40mm/4, Fujichrome Velvia

 

Pada foto bunga kering rumput pantai ini, saya ingin menciptakan simbolisasi kehidupan yang selalu bertahan di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi. Bunga rumput pantai yang kering ini saya sengaja letakkan di tengah-tengah komposisi untuk memberikan penekanan pada kekuatan pesannya melalui radiasi alur-alur kelopak keringnya yang seolah ingin mewartakan tentang keuletan bertahan hidup ke segala penjuru. Hasselblad 503CXi, Distagon CF 40mm/4, Fujichrome Velvia

Produk yang Diulas :
Buku Enchanted Moments
Mar 22, 2021
Blog #5 Belajar melihat dari mata hati

Buang dulu ide-ide yang sudah terbentuk dalam benak kita sebelum memotret. Lihat, perhatikan dan rasakan apa yang ada di hadapan kita. Reka gambaran yang akan mampu menangkap dan memancarkan kesejatian dari apa yang akan kita rekam dalam foto, dari sudut pencahayaan, komposisi, karakterisasi dan suasana. Setelah semuanya terjawab dengan bagus, barulah mulai menjepret dalam berbagai variasi. Hasilnya, karya foto yang kuat yang mampu menampilkan keunikan dari subyek dengan sentuhan artistik yang khas dari si fotografer.

 

Dapatkan rangkaian pengalaman, pemikiran dan ide kreatif pemotretan dari Deniek G. Sukarya setiap minggu dari Deniek G. Sukarya - Fotografi Adalah Seni Melihat.

6 foto yang diambil dalam rentang waktu hampir 2 dekade menunjukkan sisi menawan dan khas dari Candi Borobudur yang begitu megah. Ini adalah hasil upaya saya dalam menciptakan kreasi foto yang indah, sekaligus unik dari obyek foto yang telah diabadikan milyaran kali. dengan memadukan konsep kreatif yang sesuai dengan kata hati dan gejolak emosi, saya seperti dipandu untuk menciptakan foto-foto yang bisa mencerminkan cara saya melihat. Semua foto diambil dengan Hasselblad 503 CXi dan 903 SWC dengan Fujichrome Provia 100D dan Velvia 50D, kecuali foto bulan purnama di kala fajar yang diambil dengan mirrorless camera.

Produk yang Diulas :
Buku Enchanted Moments
Mar 17, 2021
Blog #4 – Bagian 2: Menciptakan Konsep Visual yang Bagus

Bayangkan bagaimana anda akan menginterpretasikan sebuah kepuasan, kegembiraan, kesedihan, kebanggaan, kekecewaan, dicampakkan, juga kesepian, dll. Gambaran ini akan memandu anda untuk menciptakan komposisi, bagaimana menempatkan subyek/elemen utama untuk mempertegas pesan yang ingin disampaikan, dan menentukan aspek teknis fotografi untuk mewujudkan ide anda ke kreasi foto yang anda bayangkan.

 

Kedengarannya sedikit rumit, tapi sebenarnya merupakan proses kreatif yang sederhana dan cepat bisa dilaksanakan untuk menciptakan foto-foto yang mencerminkan keunikan cara melihat anda. Sebenarnya proses ini bisa dilaksanakan lebih cepat dari waktu yang anda habiskan untuk membaca tulisan ini. Sekarang anda sudah tahu cara untuk menciptakan konsep kreatif yang khas, praktekkan terus dengan berbagai subyek dan situasi. Anda sukses kalau karya foto anda mampu mencerminkan apa yang anda lihat dan rasakan saat memotret.




Panorama Lembah yang permai di lereng menuju Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah

 

Ketika tiba di lokasi gardu pandang di pinggir jalan yang menanjak dan meliuk-liuk, saya berhenti dan menikmati hamparan ladang berteras di perbukitan di bawah saya. Sebuah pemandangan yang indah, tapi juga menunjukkan keuletan manusia dalam mengais kehidupan dari bertani. Inilah yang saya coba tangkap. dan ini adalah 2 foto dari seri kreasi foto saya di lokasi ini. Foto 1: Panorama berbukit dengan cahaya dramatis mentari pagi menunjukan bagaimana penduduk harus berjalan jauh mendaki perbukitan untuk mencapai ladangnya. Foto 2: Sebuah desa kecil yang tenteram dikelilingi ladang yang hijau asri dengan kegiatan manusia yang ditandai oleh kepulan asap dari dapur-dapur yang sedang menyiapkan santapan hari itu. Hasselblad 503 CXi, Tele Sonnar CF 250mm, 1/30 f.22, Fujichrome Provia 100.



Mar 11, 2021
Blog #4 – Bagian 1 Menciptakan Konsep Visual yang Bagus

Menciptakan konsep visual yang bagus adalah kunci untuk menciptakan karya foto yang kuat dengan ciri khas artistik anda. Sebuah konsep yang lahir dari citarasa kreatif anda berdasarkan persepsi terhadap dunia di sekitar anda dan pengalaman emosi yang dirasakan saat itu.

 

Ketika tiba di satu lokasi, janganlah langsung jepret sana-sini tanpa arah. Pertama, cermati situasi dengan pikiran terbuka tanpa dibebani ide yang sudah terbentuk di benak anda, lihat, perhatikan, resapi, dan rasakan emosi yang muncul di hati anda. Sekarang anda bisa mulai membuat interpretasi visual anda terhadap subyek yang ada di lokasi berdasarkan apa yang anda lihat dan rasakan.

 

(Continue on Part 2)


18. Buffalo Herder, Bali

Upon seeing the buffalo herder and the dramatic reflection of clouds on the wet sand, I made advanced planning, took up the right position, adjusted focus, set correct exposure and waited for all elements to come into perfect balance. Despite my preparations, I managed to squeeze only 3 frames. Mamiya 6, 50mm f/4, 1/30 f/4, Fujichrome Provia



24. One morning at Lake Batur, Bali

The silvery reflections of the sun were very dramatic with the mist still hanging around the hills in the back. I knew there was a potential picture. So I waited until the fisherman’s boat came into the middle of the reflections. As I had set the exposure based on the “sunny 16 rules” (1/125, f16) I kept shooting until the boat reached the lake’s edge. Hasselblad, Sonnar CF180mm f/4, 1/250, f /11, Fujichrome Provia



Mar 07, 2021
Blog #3 Menangkap Apa yang Dilihat dan Rasakan

Kita harus terus mengembangkan dan mempertajam cara melihat kita yang khas untuk menciptakan karya foto yang memiliki sentuhan pribadi yang kuat dan mampu mencerminkan cara pandang kita yang unik pada setiap karya foto yang kita ciptakan. Dengan mendengarkan dan mengikuti kata hati kita berdasarkan emosi yang kita rasakan saat itu, kita pasti akan menemukan sudut pandang, komposisi dan imaji yang mampu menginterprestasikan apa yang kita lihat melalui mata hati kita.

 

Capturing What You See and Feel

We must learn how to develop and sharpen our unique way of seeing to create photography works that have a distinct personal touch and can reflect our unique way of seeing in every image that we create. By following our mind’s eye based on the emotion of the moments, we will always find the angle, composition and imagery that can truly capture what we see and feel.



­­104B. Misty over Cemoro Lawang, Bromo, East Java

The thick mist that blanketed Bromo highland gradually disappeared revealing a panorama of inspiring beauty. As I was admiring this captivating scene, suddenly I noticed 5 people slowly walking along the quiet street giving the image an added attraction. This photo truly captured the emotion and beauty that I felt at the time. Hasselblad 503CXi, Tele Sonnar 350mm f/5.6, 2 x converter, 1/15, f/8 (actual f/16), Fujichrome Velvia

Mar 05, 2021
Blog #2 Menangkap Apa yang Dilihat dan Rasakan

Di era fotografi digital, siapapun bisa mengambil foto yang bagus, secara teknis. Tapi untuk menciptakan karya foto yang kuat dan mengesankan, anda perlu konsep visual dan intuisi seni yang bagus untuk menginterprestasikan apa yang anda lihat dan rasakan. Setiap orang dari kita memiliki cara melihat yang berbeda dan khas hingga membuat ciptaan kita masing-masing unik. Inilah yang akan saya coba jelaskan dalam seri Blog saya di Deniek G. Sukarya Photovision. Saya akan memandu anda untuk menemukan cara melihat anda yang unik dan mengembangkan konsep visual yang khas untuk menciptakan foto-foto yang kuat yang sepantasnya bisa disebut sebagai karya foto anda sendiri. Dalam seri blog selanjutnya, saya akan bantu anda mempertajam pendekatan kreatif anda dalam menciptakan karya foto yang sukses.


Selamat mencoba!



104. Mist over Bromo Crater’s edge, Cemoro Lawang, Bromo, East Java

Thick mist blanketed Bromo highland almost completely at dawn. When the sun rose, the mist slowly dissipated. As it did so, the sun’s rays played beautiful melodies of light and shadow in the valley below; so I just kept shooting as long as it was there. This composition is my favorite, because it caught the emotion and beauty that I felt at the time. Hasselblad 503CXi, Tele Sonnar 350mm f/5.6, 2 x converter, 1/15, f/8 (actual f/16), Fujichrome Velvia



120. Ricefields, Bali

I was sitting in the car having my coffee while watching the drama of dawn unfold quickly when I heard the tinkling of cow bells from my left. I turned and was surprised to see this beautiful scene. The pastel pink sky and its reflection on the water were the perfect back drop for the farmer who continued working without noticing the captivating landscape around him. Nikon F4, Nikkor 28-85mm f/3.5-4.5, Auto Program, Fujichrome Velvia

Mar 02, 2021
Blog #1 Photography is the Art of Seeing / Fotografi Adalah Seni Melihat

Photography is The Art of Seeing

 

“Photography is the art of seeing. Photography teaches us a unique way to see the world, and opens our eyes to a new awareness to appreciate all the beautiful things around us.

 Photography is indeed a window to the world that opens a new horizon for us to re-discover the world around us, and enjoy all the magic that can bring so much joy and fulfillment to

our life.”

 

“Fotografi adalah seni melihat. Fotografi mengajarkan kepada kita cara yang unik untuk melihat dunia, dan membuka mata kita pada kesadaran baru untuk mengapresiasi semua keindahan di sekitar kita. Fotografi memang sebuah jendela untuk melihat dunia yang membuka cakrawala baru bagi kita untuk menemukan kembali dunia di sekitar kita, dan menikmati segala keajaiban yang bisa membawa begitu banyak kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup kita.”

67. Misty morning, Bali ‘76

The silhouette of the graceful Kayu Santan (Lannea coromandelica) trees, the hurried biker and people busy about their own business and the silvery mist made this image truly enchanting. Although I took this picture over 42 years ago, I vividly still remember how I felt at the moment. My only regret is that I took only one frame of photo.

35mm SLR, 100mm f/2.8, 1/125, f/8, Kodak Ektachrome 100


Produk yang Diulas :
Buku Enchanted Moments
Feb 17, 2021
Profil Deniek G. Sukarya


Sebagai orang Bali asli, Deniek tumbuh di tengah budaya Bali yang dinamis. Tidak seperti orang Bali pada umumnya, dia memilih fotografi sebagai medium untuk mengekspresi citra artistiknya. Sekarang, fotografi telah memberikan dia kepuasan yang maksimum, baik sebagai sebuah profesi maupun untuk pemenuhan kepuasan hidup.


Sebagai seorang pekerja seni yang ulet, Deniek telah menekuni fotografi selama lebih dari 40 tahun di bidang fotografi professional untuk periklanan, laporan tahunan, potret eksekutif, industri, potret model, dokumentari, foto wisata, pemandangan dan alam. Hasil karyanya telah dipublikasikan di berbagai buku, majalah, periklanan, materi promosi, poster dan kalender.


Untuk stok foto, dia menawarkan koleksi foto terbaik di Indonesia untuk foto wisata, pemandangan, alam dan foto seni, sebagian besar dalam film format 6x6 dan sekarang dalam format digital resolusi tinggi. Deniek juga menerbitkan koleksi fotografinya untuk INDONESIA COLLECTION series Engagement Diaries, poster dan kalendar sejak tahun 1988.


Tahun 1999, dia menerbitkan buku eksklusif “Deniek G. Sukarya - ENCHANTED MOMENTS” yang memajang 181 karya foto terbaiknya. Buku keduanya “Deniek G. Sukarya - ORANG BIASA (Ordinary People)”, November 2000 dalam format hitam putih, menangkap kehidupan sehari-hari yang sering disebut sebagai orang biasa yang didokumentasikan sejak 1974.


Buku ketiga “INDONESIA - HARMONY IN DIVERSITY”, Agustus 2006, adalah buku hard cover dengan 156 halaman yang diterbitkan dalam rangka merayakan hari ulang tahun ke-40 PT Kalbe Farma Tbk. yang menampilkan portofolio foto terbaik yang menggambarkan tentang Indonesia yang indah dan damai. Buku ini juga dipilih sebagai cenderamata Kepresidenan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk perjalanan luar negeri selama 2 periode.


Tahun 2007, Deniek menerbitkan dua buku khusus: “THE POETRY OF NATURE”, untuk memperingati hari ulang tahun ke-50 PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. Buku cerita foto ini diciptakan untuk menginspirasi lahirnya kecintaan terhadap pohon dan pelestarian alam Indonesia. Foto hitam putih yang kuat dipadukan dengan puisi yang ditulis oleh berbagai kalangan, diantaranya oleh Presiden SBY, Menteri, direktur, sastrawan, artis, fotografer, penulis dan seorang anak perempuan 10 tahun membuat buku ini sangat spesial. Kemudian disusul dengan buku seri Harmony in Diversity: Indonesia - Our Fabulous Fauna, Our Maritime Heritage, Our Green Treasure, Our Enchanting Culture dan Landmarks of Indonesia.


Dalam periode dua bulan, mulai Oktober sampai minggu pertama Desember 2007, Deniek memproduksi sebuah buku hard cover setebal 156 halaman berwarna dalam dua bahasa, “INDONESIA MENANAM - A GIFT TO THE WORLD” sebagai cenderamata dari Menteri Kehutanan dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Nusa Dua, Bali, 3–14 Desember 2007. Buku ini dirancang untuk memberikan kontribusi dalam upaya untuk menjelaskan posisi pemerintah dalam menjaga dan melestarikan hutan untuk kepentingan rakyat Indonesia.


Deniek juga memberikan berbagai seminar fotografi sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya bagi perkembangan fotografi di Indonesia. Dia juga menulis beragam topik artikel untuk berbagai penerbitan mulai dari artikel wisata, budaya dan alam sampai tulisan tip dan teknik fotografi.


Sejak 1991, Deniek menerbitkan dan mengelola beberapa majalah: Visi, untuk operator Radio Panggil STARKO (90.000 eks sampai 1999), RODA (15 eks 1992– 2006), untuk PT Astra Honda Motor, distributor sepeda motor Honda di Indonesia; FOTO MODERN, majalah fotografi untuk distributor produk FujiFilm di Indonesia (1997–2003).


Tahun 2005, Deniek menyelenggarakan pameran foto NIKONIA yang diikuti oleh jurnalis foto dari 16 surat kabar dan majalah, dilanjutkan dengan penerbitan majalah foto NIKONIA, yang ditulis, dikelola dan diterbitkan oleh Deniek G. Sukarya.


Tahun 2009, Deniek menerbitkan buku best seller, Kiat Sukses Deniek G. Sukarya dalam Fotografi dan Stok Foto, diterbitkan dan didistribusikan oleh Elexmedia Nusantara.


Tahun 2011, dia menerbitkan The Wonders of Indonesia atas permintaan President Susilo Bambang Yudhoyono sebagai cendera mata resmi The Asean Summit di Nusa Dua, Bali.


In 2013, Deniek menerbitkan 1,216 halaman ensiklopedia tumbuhan, 3.500 Plant species of the Botanic Gardens of Indonesia, yang mendeskripsikan lebih dari 3,600 species tumbuhan dengan ilustrasi lebih dari 12,000 foto. Dia memotret lebih dari 6.800 spesimen tumbuhan (5.600 spesies) di 4 Kebun Raya LIPI: Bogor, Cibodas, Purwodadi dan EkaKarya Bali selama 22 bulan untuk penerbitkan buku ini. Pembiayaan buku ini dibantu oleh Ibu Negara, Almarhumah Hajah Ani Yudoyono, dan didukung oleh Presiden SBY.


Deniek juga menginisiasi, mengorganisir sponsorship dan memimpin penerbitan buku spesial untuk merayakan 2 Abad Kebun Raya Bogor, "Dua Abad Menyemai Kekayaan Hayati Bumi di Indonesia", membuat profil video dan membangun tugu prasasti 2 Abad Kebun Raya Bogor yang kini telah menjadi salah satu ikon yang paling popular di sana.


Sejak 2014, Deniek mulai memperhatian perkembangan seni budaya tradisional Jembrana, terutama Jegog, gamelan bambu khas Jembrana dengan membuka Sanggar Seni Sukarya di desanya. Sanggar Seni Sukarya mengumpulkan bakat terbaik dan memberikan pelatihan seni tabuh dan tari secara gratis. Sanggar Seni Sukarya telah menciptakan 7 tari dan tabuh baru, 6 oleh Deniek sendiri. Musik jegog kreasinya kini juga bisa didengarkan di Langit Musik, di album The Magic of Jegog. Sanggar Seni Sukarya telah diundang pentas di berbagai event bergengsi di Jembrana, Sanur, Ubud and Jakarta, termasuk di Arma Museum, Ubud, Bali, The Sultan Hotel Jakarta and Galeri Indonesia Kaya.